Urban Sprawl


Urban Sprawl (Pemekaran Kota)

Di banyak negara di dunia, urban sprawl sering menjadi permasalahan apalagi untuk negara dengan pertumbuhan kota yang cepat dan banyak migrant miskin dari desa menuju ke kota. Efeknya untuk bisa hidup di kota, migran perlu bekerja walaupun sebagai pekerja informal dan pada sisi lain dituntut perlunya penegakan regulasi (peraturan) bagi pengelola kota sehingga urban sprawl sejalan dengan rencana yang disusun. Pertanyaannya apakah urban sprawl di Indonesia saat ini telah berjalan dengan pengelolaan yang baik? Hal ini bertujuan untuk identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pemekaran kota dan keengganan pengelola kota dalam mengantisipasi perubahan penggunaan lahan khususnya dalam perencanaan penggunaan lahan, serta untuk menyusun suatu uji model yang dapat diterima oleh pemerintah Negara masing-masing selama periode 2000-2008; dan untuk investigasi aplikasi dan efektivitas model yang disusun agar tercapai perencanaan kota yang integrasi di Indonesia.
Tujuan khusus adalah untuk mengembangkan diagnosa (dugaan) umum untuk menemukan kerangka kerja evaluasi terjadinya urban sprawl, dasar indicator, dan factor-faktor penentu kesuksesan urban sprawl dari mereview literature yang relevan; dari interview stake holder; review dokumen pemerintah kedua negara, dan interview pegawai pemerintah yang melakukan desain dan mengelola proses perencanaan kota.
Sukses factor penelitian diukur dari hasil tes dan eksplorasi perbandingan dari berbagai literature, laporan kajian pemerintah, dan hasil evaluasi. In-depth interview diberikan kepada 50 managers dan partisipan proses penelitian dalam tiga level yaitu provinsi, kabupaten, kota. Beberapa materi yang perlu ada dalam kuesioner pada saat interview adalah identitas stake holder, identitas revewer, karakter lokasi, perijinan, kebijakan alih fungsi lahan, permasalahan alih fungsi lahan, dan solusi mengatasi permasalahan.
Responden akan menjawab melalui general questions sebagai guideline. Dari analisis kualitatif dan kuantitatif menggunakan Program statistik SPSS dan spread sheet MS-Excel mengikuti indikator sebagai dasar untuk menyampaikan suatu temuan proses terjadinya urban sprawl sehingga bermakna bagi kepentingan proses perencanaan.

Email : [email protected]
Web: http://mrosul.edublogs.org

Urban Sprawl atau dikenal dengan pemekaran kota merupakan bentuk bertambah luasnya kota secara fisik. Perluasan kota disebabkan oleh semakin berkembangnya penduduk dan semakin tingginya arus urbanisasi. Semakin bertambahnya penduduk kota menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap perumahan, perkantoran, dan fasilitas sosial ekonomi lain. Urban sprawl terjadi dengan ditandai adanya alih fungsi lahan yang ada di sekitar kota (urban periphery) mengingat terbatasnya lahan yang ada di pusat kota. Urban sprawl merupakan salah satu bentuk perkembangan kota yang dilihat dari segi fisik seperti bertambahnya gedung secara vertikal maupun horisontal, bertambahnya jalan, tempat parkir, maupun saluran drainase kota.
Dampak dari pemekaran kota adalah semakin berkurangnya lahan subur produktif pertanian sehingga mengancam swasembada pangan karena terjadi perubahan peruntukan lahan pertanian menjadi lahan terbangun. Disamping itu pemekaran kota yang tidak terkendali (unmanaged growth) menyebabkan morfologi kota yang tidak teratur, kekumuhan (slum), dan permukiman liar (squatter settlement). Profesor saya di Universiti Kebangsaan Malaysia mengatakan bahwa kondisi slum dan squatter merupakan fenomena yang biasa terjadi di kota dan terkait dengan kebijakan pengelola kota berkurang. Dengan perkataan lain setiap upaya pembangunan kota terkait dengan terjadinya kegagalan pembangunan kota sehingga menyebabkan terjadi kesenjangan antar masyarakat di pusat kota maupun antar masyarakat pusat kota dengan pinggiran.
Pemilihan lokasi hunian di piggiran kota dengan asumsi harga lahan yang lebih murah dan kondisi udara yang masih sehat. Penduduk yang semula menyewa rumah, dengan semakin meningkat pendapatan sebagian penduduk memilih lokasi tinggal di luar kota agar memiliki rumah tingal sendiri. Sebagian penduduk yang berpenghasilan rendah dengan terpaksa menempati rumah tinggal yang sempit dan kumuh.
Sebagian penduduk terpaksa tinggal di daerah genangan. Musim kemarau tergenang oleh air rob (air laut pasang), dan musim hujan tergenang oleh oleh air hujan. Rumah dan fasilitas pendukungnya seperti jalan, saluran drainase, tiang listrik, barang elektronik menjadi rusak. Masyarakat yang mampu pindah ke tempat lain, tetapi masyarakat yang miskin tidak ada pilihan selain tetap bertempat tinggal disana.
Salah satu kota dengan urbanisasi dan pertumbuhan kota yang khas adalah Kota Semarang. Bukit yang seharusnya menjadi daerah tangkapan hujan (recharge area) dijadikan sebagai permukiman sebagai akibat terbatasnya lahan di pusat kota. Dampaknya adalah air larian permukaan (surface run off) semakin tinggi dan menurunnya resapan (inviltrasi), semakin banyak vegetasi yang hilang sehingga udara semakin panas. Itulah sebabnya sumur kering pada musim kemarau karena menurunnya cadangan air di groundwater.
Keberadaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) masih belum dapat diimplementasikan dalam mencapai tata ruang yang pro lingkungan. Terlalu banyak kepentingan sosial ekonomi yang mempengaruhi pelaksanaan RTRW, sehingga fungsi lingkungan terabaikan. Rencana yang disusun masih baik dalam teori konsep, tetapi karena tidak dapat diimplementasikan maka keberadaannya tidak mampu memformat kota agar dapat terkendali. Perencanaan
Berdasarkan hal ini, saya ingin membuat sebuah studi model urban sprawl di Indonesia dan Malaysia. Model ini membandingan kedua negara dari aspek spasial, social ekonomi dan temporal sehingga dapat diperoleh perbedaan tata guna lahan, trend perkembangan kota, kultur, pendekatan manusia dalam pembangunan, perbandingan komunitas masyarakat miskin dan lemah, serta tingkat respek terhadap alam, etnis, dan tanggung jawab spiritual.

Rosul
July 9, 2008

Literatur:
Hall, Peter, 2008. Planning World, return to Tradition to learn for tomorrow, the Journal of Town and Country Planning Association Vol 77 no 2 February 2008, London. Email [email protected] PTSL HT166 T6
Jackson, L.S., 2002. Consensus process in land use planning In British Columbia: the nature of Success: Progress in Planning 57(2002) 1-90. www.elsevier.com/locate/pplann, perpus PTSL HT 167 p7.
Pritchet, W.E., 2008. Which urban Crisis? Reionalism, Race, and Urban Policy, 1960-1974. Journal of Urban History, Vol 34 number 2 January 2008. SAGE Publications, North Caroline. www.sagepub.com PTSL HT 111 J68



Leave a Reply

Required fields are marked *.